MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG





MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG 081916384162  
   

<< February 2020 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29

MOCH SATRIO WELANG

Internet Sehat


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, May 07, 2019
TELANJANG

Moch Satrio Welang TELANJANG inikah kita telanjang di dasar laut tangisi kubur sendiri bercermin di gelas anggur di geladak kapal, tubuh ini mati tak berani pulang apa itu pahit dan dendam terselip di jerit awak kapal saat ombak menerjang kita benar- benar telanjang sesekali kita mesti berhenti diam dan telanjang pasung tubuh dan ingatan membujur di pusara laut telentang telanjang lalu lihatlah dunia di pematang, kunang-kunang menunggu senja datang di taman, anak anak riang bersajak di sungai, para gadis membasuh tubuh dari helai rambutnya, lahir keteguhan di hulu, orang-orang melepas perahu menggadai mimpi kuyu merindu rahasia laut dan kebesarannya ternyata kita selembar daun terombang gelombang menepi dan tenggelam lagi

Posted at 09:39 pm by satrio_welang
Make a comment  

Jalan Pulang

Moch Satrio Welang JALAN PULANG kita pun pulang pada api pada roman purba pada tarian dewa-dewa yang menjelma kita pun pulang pada laut yang mengingatkan kita bukan siapa-siapa kubisikkan ini dalam tiap percintaan di luas alam raya “kupeluk punggungmu yang bersayap kita terbang perlahan melihat bumi begitu tenang dan damai begitu bulat dan biru kita melayang di udara hampa melupakan segalanya”

Posted at 09:33 pm by satrio_welang
Make a comment  

Thursday, April 27, 2017
Keberangkatan

Moch Satrio Welang

KEBERANGKATAN

lihatlah kehidupan
biji padi tertanam
lalu lumpur hujan
mengotori menumbuhkan

menggigilah bunga padma
dalam kabut doa
dalam gelincir embun
dan matahari pulang
ke hening laut

lalu kemana kapal diberangkatkan
membawa perca masa lalu
menderulah terjang,
tusuk langit
dan pecahkan

30 Juni 2016


Posted at 09:03 pm by satrio_welang
Make a comment  

Percakapan Malam

Moch Satrio Welang

PERCAKAPAN MALAM

Bila percakapan diri belum usai, mari menuang anggur dan berbagi helai roti, mungkin saja sang waktu berteka teki, mungkin saja. Kita menggembala hati, menuruni bukit, demi secercah mata air. Kita menggembala hati, dari dermaga ke dermaga untuk melepas kerinduan
           Dan kuciptakan lebih dari satu permaisuri untuk istanaku yang kutebar dimana mana. Dari mercusuar yang berputaran kuharap kau mengerti pesan yang kuselipkan. Kususun kehilangan demi kehilangan, menunggu hari yang dijanjikan dan senja tak menjawab apa apa.
           Telah kurasakan buas laut, sungguh siapa kita, saat gemuruh bergulung melumat keangkuhan tanpa sisa. Cobalah di saat gelap, tatap bintang, kau akan melihatku bergelayut menahan rindu. Pada malam ceritakan semua, kisah-kisah biru kita, jejak jejak sunyi yang merayap merambat menggerogoti hari yang berceceran. Utarakan pada malam kejujuran gerhana, pijar pijar memancar, pijar malu malu, yang tersudut dan terampas haknya.
           Karena cinta adalah sebatang pohon tua yang menanti dan merindu.Karena penantian adalah air mata yang kuhadang agar tak jatuh runtuh di kakimu



Posted at 09:02 pm by satrio_welang
Make a comment  

Peri Kecil Angeline

Moch Satrio Welang

 

PERI KECIL ANGELINE

 

Angeline, seperti namamu

malaikatlah dirimu

maka kepakkan sayap
menarilah di taman langit

dimana cahaya membalutmu
menyapu lukamu
membasuh air matamu

 

karena tangan Tuhan
pasti luas, cukup untuk merangkul ketabahanmu

 

dalam gelap, kau diterangkan
dalam batu-batu, kau diringankan

 

maka membumbunglah

ejek keserakahan mereka
kejahanaman yang tak mampu menyurutkanmu

 

Angeline, jika keadilan manusia tidak ada
maka keadilan Tuhan berkilau �" kilau pedangnya!

 

 


Posted at 09:01 pm by satrio_welang
Make a comment  

PERANG

Moch Satrio Welang

PERANG

inikah aksara hidup, menjelma cintamu
dalam telaga doa yang terurai bayang baying
menyisakan deru perang tubuh renta

cinta dimanakah nafasmu
yang memenjara aku
mengeringkah luka ini
dalam rajah keheningan

maka takdirku bergemuruh perang
yang mengalirkan cahaya benderang


 


Posted at 09:01 pm by satrio_welang
Make a comment  

DI PEKARANGAN KERTHA GOSA

Moch Satrio Welang

DI PEKARANGAN KERTHA GOSA

Ayah pernah merangkulku
dalam perjalanan kota
Berdagang akik
Menggelar tikar

Dari pasar ke pasar
Hingga pelataran ke pelataran
Aku tumbuh di antara
Batu pirus dan bangsing

Di kota yang nyenyak ini
Ada sebuah paviliun raja
Ada garis wajah wayang kemasan
Ada perang-perang babad
Juga keris-keris

Ingatanku menangisi
Sejarah paling panjang
Yang diselipkan pada ulik ukir kayu
Dinding lapuk ini

O, bunga padma di taman kecil
Patung kayu penari cantik
Kakek bungkuk bertopi capil
Betapa aku terjaga
Dalam percakapan tawar menawar
Di gemeletak batu akik

Di pelataran Kertha Gosa
Pernah kutitipkan jejak
Tapak dara
Kuhangatkan mimpi
Kukunyah belai ayah
Sepanca warna kalimaya

Denpasar, 30 Juni 2016


Posted at 09:00 pm by satrio_welang
Make a comment  

PERJALANAN DINGIN

Moch Satrio Welang

PERJALANAN DINGIN

                       - Elvis Parluxtond

 

kutemui kau dalam sajak sederhana
sajak yang dirajut daun waru
di stasiun batu
mungkin kita telaga cahaya
namun warna tak mampu membias
tirai yang mengalun turun 
menatap cadas dasarmu

ini perjalanan dingin dan sunyi

upacara keberangkatan
di jembatan panjang 
menggema di lembah – lembah
ditelan dingin dan ketidakkuasaan

kita tumbuh dalam perang demi perang
mencari rumah dan kepulangan
tubuh kita dirantai
 
menghitung perahu kayu
di lautmu

kita menjadi asing di barisan
tak ada tangan digenggam
tak ada boneka kayu
di langit telanjang
 
instalasimu bulan dan matahari

sementara kami di sini 
di tanah dingin ini
menghitung batu – batu
menanti keberangkatan demi keberangkatan
dalam kereta yang berputaran

 


Posted at 08:29 pm by satrio_welang
Make a comment  

TAHANAN

Tahanan
            - Mo

kita para tahanan terberangus sunyi
dalam rantai yang berdentangan
terselip puji pujian sayup
dari terali tampak bulan begitu pucat
kita mengemis kasih awan dan burung malam
mengharap esok benar ada

dalam sekian pertikaian
kau pun akhirnya mengerti
dalam nafasmu yang memburu
kau pun paham
kita memang kuda hitam
yang memanggul nasib
dalam belukar tak berkesudahan


Posted at 08:29 pm by satrio_welang
Make a comment  

DI TANGKAI MAWAR MANA ?

Moch Satrio Welang 

DI TANGKAI MAWAR MANA ? 

di tangkai mawar mana, di taman mana, kau selipkan pesan untukku. pada setiap zaman dan perubahan, aku tetap disini, di trotoar yang sama, di tikungan yang sama, di detak jantung yang sama 

lalu hingga detik ke berapa lagi kutunggu anggur kau tuangkan. sungguh tak pernah kulupa denting cangkir, desah nafas dan kisah - kisah yang meluncur dari bibirmu yang ranum.. 

oh, pengembara, aku tak pernah rela kau tinggalkan jejak dan bayang - bayang, masa lalu, kini atau nanti, yang selalu kuraba dari rasi bintang di angkasa.. 

 oh, penguasa alam raya, mungkinkah berakhir getir tiap detik sepi, yang tak kuizinkan membuatku jatuh di kebodohan yang sama, menjadikan setiap batu puisi, embun puisi, bulan dan senja puisi, bahkan lumut yang menjalar liar di hatimu yang tak lagi kukenal.. 

oh, cinta, bagaimana kabarmu di atas sana? apa kau baik baik saja? mengapa begitu lekas lepas, semestinya kucuri saja selendangmu, agar kau tak terbang hilang, biar kurangkul, kucium, sampai maut yang mengintip di sela - sela dedaunan datang menghadang.. 

jika ini takdir, maka aku akan menentangnya, jika ini ujian, maka kuselesaikan semuanya, jika ini kau, maka aku tak akan ada, karena kau dan aku dalam satu nafas, kau tarikan maka aku hembusan. 

mungkin aku buta, mencarimu yang tiada kemana-mana, menunggumu yang tiada kemana mana..


Posted at 08:26 pm by satrio_welang
Make a comment  

Next Page